Diambil dari http://talentsmapping.wordpress.com, tentang tips dari Abah Rama (pak Rama Royani) tentang mitos-mitos yang sering kita dengar namun belum tentu tepat untuk kita ikuti....
---------------
Mitos No.1 :
memperbaiki kelemahan akan membuat segala sesuatunya beres,
Kata-kata populer tersebut mengatakan bahwa:
+ Kalau seseorang dapat memperbaiki kelemahan individunya, maka dia akan menjadi kuat.
+ Kalau kamu memperbaiki kelemahan yang ada diorganisasi maka organisasimu akan menjadi kuat.
+ Pada puncaknya apabila kamu bisa memperbaiki semua kelemahan maka semuanya menjadi sempurna.
+ Sayangnya asumsi ini salah.
Memperbaiki kelemahan hanya akan membuat orang atau organisasi tersebut menjadi normal atau rata-rata saja.
Mitos No.2 :
Biarkan kekuatan mengembangkan dirinya sendiri,
Apabila seseorang hebat dalam melakukan sesuatu, misalnya matematik, memotivasi orang, mendesain interior, maka terjadilah reaksi refleks: yaitu ”take it for granted” (membiarkannya karena sudah dari sana nya begitu), asumsinya, kekuatan akan berkembang dengan sendirinya.
University of Nebraska melakukan study tentang pengaruh pelatihan terhadap lebih 1000 pembaca di dalam pelajaran speed reading.
Pembaca yang paling lemah dalam test awal mendapatkan 90 kata per menit, sedangkan yang paling hebat adalah 350 kata permenit.
Siapa yang paling banyak prosentasi kenaikkannya setelah dilakukan pelatihan?
Semua orang bahkan periset yang paling hebatpun akan mengatakan bahwa yang paling lemah akan menghasil prosentase kenaikkan paling tinggi.
Hasilnya??
Yang paling lemah menjadi 150 kata permenit (167%)dan yang paling hebat menjadi 2900 kata permenit (830%!!!!!).
Ini menunjukkan bahwa usaha untuk memperbaiki kelemahan hanya akan menghasilkan kinerja rata-rata sedangkan mengembangkan kekuatan akan memberikan kinerja yang luar biasa.
Mitos No.3 :
Sukses adalah lawannya gagal,
Maksudnya disini adalah saat ini ada kepercayaan bahwa:
+ Sakit lawannya Sehat.
+ Sukses lawannya Gagal.
+ Baik lawannya Buruk.
Padahal bukan demikian. Kekuatan atau Kelemahan, Sukses atau Gagal, Baik atau Buruk, memiliki konfigurasi yang berbeda, memiliki sindromenya sendiri, memiliki pola perilaku yang berbeda.
Akan tetapi masih saja kita tertipu dengan mempercayai bahwa kalau kita bisa menemukan apa yang salah dan memperbaikinya, semuanya akan beres, kalau kita dapat menemukan kelemahan kita, maka kita bisa mengubahnya menjadi kekuatan.
Coba pertimbangan situasi ini:
+ Mempelajari ”broken home” tidak akan memberikan informasi tentang bagaimana membangun keluarga yang kuat.
+ Mempelajari mengapa anak muda memakai Narkoba tidak akan membuat kita mengerti kondisi yang membuat anak kita mengatakan ”say no to drug”.
+ Mempelajari mengapa karyawan hengkang dari perusahaan tidak akan membuat kita mengerti mengapa yang lainnya tetap bertahan.
+ Mempelajari mengapa anak-anak gagal dalam matematik tidak menjelaskan mengapa yang lainnya hebat dalam matematik.
Mitos No.4 :
Semua orang bisa melakukan apapun yang mereka impikan,
Mitos ini muncul dalam beberapa bentuk seperti berikut:
+ Kalau awalnya anda gagal, coba dan coba lagi.
+ Berlatih membuat sempurna.
+Kalau kamu dapat membayangkannya kamu akan mencapainya.
+ Kalau saya bisa melakukannya, kamu juga pasti bisa.
Kata-kata di atas merupakan bagian dari pelajaran ”kekuatan dari berpikir positif” yang menganjurkan bahwa sukses dapat dicapai, melulu karena kerja keras.
Padahal setiap manusia dilahirkan dengan sangat unik dengan kumpulan bakatnya masing-masing.
Kita bisa (dan harus) mencoba segala macam yang ingin dicoba, akan tetapi sukses jangka panjang hanya bisa diperoleh apabila anda memiliki bakat dasar untuk usaha tersebut, jadi kalimat diawal tadi seharusnya menjadi seperti ini.
+ Anda bisa menjadi apa saja sepanjang kekuatanmu mengijinkannya.
+ Kalau awalnya tidak sukses, coba periksa apakah kamu sedang membangun kekuatanmu.
+ Melatih kekuatan akan membuat sempurna.
+ Kalau anda bisa membayangkan nya dan dapat mencapainya bisa jadi memang di sanalah jalan anda.
+ Kalau saya bisa melakukannya, semua yang memiliki kekuatan yang sama akan bisa melakukannya juga.
Read More..
Showing posts with label skill. Show all posts
Showing posts with label skill. Show all posts
Sunday, February 8, 2009
Tuesday, September 23, 2008
Kekuatan & Kelemahan atau Potensi & Keterbatasan?
Artikel berikut ini adalah tulisan Abah Rama (Rama Royani) yang pernah saya download.
Semoga bermanfaat...
----
KEKUATAN DAN KELEMAHAN atau
POTENSI DAN KETERBATASAN ?
Pengantar :
Berbekal dari pengertian bahwa positif lawannya negatif, seringkali ada persepsi kalau Kekuatan lawannya Kelemahan, lebih celaka lagi bahwa sejak 30 tahun yang lalu kita dijejali oleh konsep SWOT didalam membuat perencanaan organisasi sehingga hampir semua orang dewasa yang sudah bekerja mengenali istilah ini dan berbagai konsultan membuat versi lain yang prinsipnya sama saja yaitu TOWS (agar persepsinya "menarik") dan ada juga yang hampir benar seperti SLOT (dengan mengganti Weakness menjadi Limitation).
Dalam konteks tersebut diatas, tidak heran kalau ada persepsi bahwa kalau bisa "memperbaiki" kelemahan maka akan timbul kekuatan dan itu juga sebabnya pada hampir semua organisasi, butir butir kelemahan menjadi perhatian utama untuk dijadikan masukkan didalam perencanaan untuk "diperbaiki" yang dijabarkan dengan detil didalam "rencana tindakan" yang istilah kerennya "Action Planning".
Jarang sekali ada organsasi yang justru berfokus pada "kekuatannya" didalam membuat "action planning".
Yang menarik adalah di amerika ada study tentang butir butir rencana tindakan hasil analisis SWOT di banyak perusahaan. Ternyata lebih dari 50% butir-butir tersebut selalu timbul dari tahun ke tahun dan ini membuktikan bahwa tidak sedikit kelemahan yang tidak bisa diperbaiki.
Apa ada yang salah?
Saya menemukan tiga hal penting dalam menjelaskan hal tersebut diatas
Pertama : persepsi bahwa dengan memperbaiki kelemahan maka akan mendapatkan kekuatan
Kedua : persepsi bahwa manusia bisa memperbaiki segala macam kelemahan
Ketiga : pengertian yang salah tentang arti kelemahan
Pertama : Memperbaiki kelemahan akan mendapatkan kekuatan.
Kalau kita menganggap bahwa kekuatan dan kelemahan berada pada kutub yang berlawanan, maka memperbaiki kelemahan hanya akan mengakibatkan hilangnya kelemahan yang posisinya ditengah tengah atau netral dan ini bukan berarti menjadi kekuatan
Kedua : Manusia bisa memperbaiki segala macam kelemahan.
Obsesi manusia untuk memperbaiki kelemahan merupakan peluang yang dimanfaatkan oleh Self Help Industries yang menyebabkan orang orang di Amerika menghamburkan milyaran dollar dengan hasil yang sangat amat tidak memadai.
Persepsi bahwa manusia bisa berubah menyebabkan pelatihan dan seminar tentang Individual Development laku keras akan tetapi kita semua tahu bahwa pelatihan pelatihan semacam ini hanya membawa dampak beberapa minggu saja, bahkan pelatihan Asia Works yang dianggap paling hebatpun tahu kalau manusia itu seperti bandul yang sewaktu waktu akan kembali keposisi semula.
Ada pendapat bahwa manusia bisa berobah kalau ada krisis
Tetapi apa yang terjadi lihat komentar dibawah ini:
What if a heart specialist told you that you had to change some lifestyle patterns or die? Could you change to save your life?
The odds against your being able to do it are nine to one according to Dr. Raphael “Ray” Levey, founder of the Global Medical Forum in November 2004 at IBM’s Global Innovation Outlook” Conference. (As reported in Fast Company, May 2005)
Dr. Edward Miller, Dean of Medical School at John Hopkins University said:
“They must make changes to live, but they can’t seem to do it. We’re missing a link there somewhere.”
Bayangkan saja, ancaman kematian yang merupakan krisis yang paling hebatpun sulit membuat manusia berubah.
Jadi apa betul manusia tidak bisa memperbaiki kelemahannya?
Kita harus bisa memilah milah yang dimaksud dengan kelemahan
Kalau kelemahan tersebut terkait dengan:
Skill (Keterampilan – def: kemampuan melakukan langkah langkah yang benar dari suatu kegiatan).............maka biasanya dengan berlatih orang bisa menjadi semakin terampil
Knowledge (Pengetahuan)... maka dengan belajar orang bisa semakin tahu
Values (Tatanilai)...... tidak sedikit contoh orang yang tadinya penjahat menjadi orang baik
Behaviour (Perilaku/Tingkah laku).... supir angkot di cimindi yang sulit diatur tiba tiba menjadi sangat teratur setelah menjadi supir TransJakarta (Busway)
Jadi ada kelemahan yang bisa diperbaiki tetapi ada juga kelemahan yang tidak bisa diperbaiki dan ratusan tahun yang lalu sudah ada do’a yang namanya Serenity Prayer yang menyatakan keinginan besar untuk bisa mengetahui mana yang bisa diperbaiki mana yang tidak bisa diperbaiki:
“ God, grant me Serenity to accept the things I cannot change, Courage to change the things I can and Wisdom to know the difference”
Yang dapat diperbaiki dengan mudah adalah Skill yang tidak membutuhkan bakat tertentu dan Knowledge
Yang juga bisa diubah adalah Behaviour yang didukung oleh bakat bakat dominannya, karena kalau tidak, maka akan membuat seseorang menjadi stress berat
Yang juga bisa diperbaiki adalah Values
Dan ini yang penting :
Pada umumnya hal hal yang terkait dengan personality traits seseorang, sangat sulit diubah bahkan tidak bisa berubah
Ketiga : Pengertian yang salah tentang Kelemahan
Sebenarnya akan lebih jelas apabila kita menambah istilah kekuatan dan Kelemahan dengan Potensi dan Keterbatasan agar pengertiannya menjadi lebih gamblang sbb:
Allah memberikan Potensi dan Keterbatasan kepada setiap makhluknya sedang Kekuatan dan kelemahan adalah merupakan pilihan dan upaya manusia atas potensi dan keterbatasannya masing masing.
o Manusia diberikan potensi akal dan keterbatasan terbang maupun bernafas didalam air
o Burung diberikan potensi terbang dan keterbatasan berlari
o Ikan diberikan potensi bernafas di air dan keterbatasan memanjat
o Cacing diberikan potesi menembus , hidup didalam tanah dan keterbatasan berlari
Kalau makhluk makhluk tersebut diatas berusaha melatih potensinya maka akan timbul kekuatan,
o Kalau manusia berlatih dan belajar dengan menggunakan akalnya maka kekuatannya akan timbul
o Kalau burung berlatih terbang maka kekuatannya timbul
akan tetapi kalau makhluk tersebut memaksa bertindak dengan menggunakan keterbatasannya, maka akan timbul kelemahan.
o Kalau manusia memaksa untuk bernafas didalam air dia akan kelemahannya timbul
o Kalau cacing berusaha untuk berlari maka kelemahannya timbul
o Kalau ikan berusaha untuk terbang maka kelemahannya tombul
Dengan begitu, kalau kita menggali Potensi dan Keterbatasan kita maka akan jelas bahwa rencana tindakannya akan lebih berfokus kepada mengasah potesi menjadi kekuatan lalu menggunakan kekuatan tersebut untuk maju kedepan ketimbang berusaha memperbaiki keterbatasan ataupun memaksa bertindak berdasarkan keterbatasan.
o Kalau manusia ingin terbang, maka gunakan akalnya untuk membuat kapal terbang
o Kalau manusia ingin menyelam maka gunakan akalnya untuk membuat alat penyelam
Jadi kalau Gallup bilang:
“Focus on your Strength and manage around your Weakness”
( Fokus pada Kekuatan dan siasati Kelemahan)
Maka Abah Rama bilang
” Fokus pada Kekuatan siasati Keterbatasan”
==========================================================
Surah Ar’ Rahman (Q : 33)
“Hai golongan jin dan manusia, apabila kamu sanggup menembus penjuru penjuru langit dan bumi, maka tembuslah ! Tetapi kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan KEKUATAN ”
==========================================================
Read More..
Semoga bermanfaat...
----
KEKUATAN DAN KELEMAHAN atau
POTENSI DAN KETERBATASAN ?
Pengantar :
Berbekal dari pengertian bahwa positif lawannya negatif, seringkali ada persepsi kalau Kekuatan lawannya Kelemahan, lebih celaka lagi bahwa sejak 30 tahun yang lalu kita dijejali oleh konsep SWOT didalam membuat perencanaan organisasi sehingga hampir semua orang dewasa yang sudah bekerja mengenali istilah ini dan berbagai konsultan membuat versi lain yang prinsipnya sama saja yaitu TOWS (agar persepsinya "menarik") dan ada juga yang hampir benar seperti SLOT (dengan mengganti Weakness menjadi Limitation).
Dalam konteks tersebut diatas, tidak heran kalau ada persepsi bahwa kalau bisa "memperbaiki" kelemahan maka akan timbul kekuatan dan itu juga sebabnya pada hampir semua organisasi, butir butir kelemahan menjadi perhatian utama untuk dijadikan masukkan didalam perencanaan untuk "diperbaiki" yang dijabarkan dengan detil didalam "rencana tindakan" yang istilah kerennya "Action Planning".
Jarang sekali ada organsasi yang justru berfokus pada "kekuatannya" didalam membuat "action planning".
Yang menarik adalah di amerika ada study tentang butir butir rencana tindakan hasil analisis SWOT di banyak perusahaan. Ternyata lebih dari 50% butir-butir tersebut selalu timbul dari tahun ke tahun dan ini membuktikan bahwa tidak sedikit kelemahan yang tidak bisa diperbaiki.
Apa ada yang salah?
Saya menemukan tiga hal penting dalam menjelaskan hal tersebut diatas
Pertama : persepsi bahwa dengan memperbaiki kelemahan maka akan mendapatkan kekuatan
Kedua : persepsi bahwa manusia bisa memperbaiki segala macam kelemahan
Ketiga : pengertian yang salah tentang arti kelemahan
Pertama : Memperbaiki kelemahan akan mendapatkan kekuatan.
Kalau kita menganggap bahwa kekuatan dan kelemahan berada pada kutub yang berlawanan, maka memperbaiki kelemahan hanya akan mengakibatkan hilangnya kelemahan yang posisinya ditengah tengah atau netral dan ini bukan berarti menjadi kekuatan
Kedua : Manusia bisa memperbaiki segala macam kelemahan.
Obsesi manusia untuk memperbaiki kelemahan merupakan peluang yang dimanfaatkan oleh Self Help Industries yang menyebabkan orang orang di Amerika menghamburkan milyaran dollar dengan hasil yang sangat amat tidak memadai.
Persepsi bahwa manusia bisa berubah menyebabkan pelatihan dan seminar tentang Individual Development laku keras akan tetapi kita semua tahu bahwa pelatihan pelatihan semacam ini hanya membawa dampak beberapa minggu saja, bahkan pelatihan Asia Works yang dianggap paling hebatpun tahu kalau manusia itu seperti bandul yang sewaktu waktu akan kembali keposisi semula.
Ada pendapat bahwa manusia bisa berobah kalau ada krisis
Tetapi apa yang terjadi lihat komentar dibawah ini:
What if a heart specialist told you that you had to change some lifestyle patterns or die? Could you change to save your life?
The odds against your being able to do it are nine to one according to Dr. Raphael “Ray” Levey, founder of the Global Medical Forum in November 2004 at IBM’s Global Innovation Outlook” Conference. (As reported in Fast Company, May 2005)
Dr. Edward Miller, Dean of Medical School at John Hopkins University said:
“They must make changes to live, but they can’t seem to do it. We’re missing a link there somewhere.”
Bayangkan saja, ancaman kematian yang merupakan krisis yang paling hebatpun sulit membuat manusia berubah.
Jadi apa betul manusia tidak bisa memperbaiki kelemahannya?
Kita harus bisa memilah milah yang dimaksud dengan kelemahan
Kalau kelemahan tersebut terkait dengan:
Skill (Keterampilan – def: kemampuan melakukan langkah langkah yang benar dari suatu kegiatan).............maka biasanya dengan berlatih orang bisa menjadi semakin terampil
Knowledge (Pengetahuan)... maka dengan belajar orang bisa semakin tahu
Values (Tatanilai)...... tidak sedikit contoh orang yang tadinya penjahat menjadi orang baik
Behaviour (Perilaku/Tingkah laku).... supir angkot di cimindi yang sulit diatur tiba tiba menjadi sangat teratur setelah menjadi supir TransJakarta (Busway)
Jadi ada kelemahan yang bisa diperbaiki tetapi ada juga kelemahan yang tidak bisa diperbaiki dan ratusan tahun yang lalu sudah ada do’a yang namanya Serenity Prayer yang menyatakan keinginan besar untuk bisa mengetahui mana yang bisa diperbaiki mana yang tidak bisa diperbaiki:
“ God, grant me Serenity to accept the things I cannot change, Courage to change the things I can and Wisdom to know the difference”
Yang dapat diperbaiki dengan mudah adalah Skill yang tidak membutuhkan bakat tertentu dan Knowledge
Yang juga bisa diubah adalah Behaviour yang didukung oleh bakat bakat dominannya, karena kalau tidak, maka akan membuat seseorang menjadi stress berat
Yang juga bisa diperbaiki adalah Values
Dan ini yang penting :
Pada umumnya hal hal yang terkait dengan personality traits seseorang, sangat sulit diubah bahkan tidak bisa berubah
Ketiga : Pengertian yang salah tentang Kelemahan
Sebenarnya akan lebih jelas apabila kita menambah istilah kekuatan dan Kelemahan dengan Potensi dan Keterbatasan agar pengertiannya menjadi lebih gamblang sbb:
Allah memberikan Potensi dan Keterbatasan kepada setiap makhluknya sedang Kekuatan dan kelemahan adalah merupakan pilihan dan upaya manusia atas potensi dan keterbatasannya masing masing.
o Manusia diberikan potensi akal dan keterbatasan terbang maupun bernafas didalam air
o Burung diberikan potensi terbang dan keterbatasan berlari
o Ikan diberikan potensi bernafas di air dan keterbatasan memanjat
o Cacing diberikan potesi menembus , hidup didalam tanah dan keterbatasan berlari
Kalau makhluk makhluk tersebut diatas berusaha melatih potensinya maka akan timbul kekuatan,
o Kalau manusia berlatih dan belajar dengan menggunakan akalnya maka kekuatannya akan timbul
o Kalau burung berlatih terbang maka kekuatannya timbul
akan tetapi kalau makhluk tersebut memaksa bertindak dengan menggunakan keterbatasannya, maka akan timbul kelemahan.
o Kalau manusia memaksa untuk bernafas didalam air dia akan kelemahannya timbul
o Kalau cacing berusaha untuk berlari maka kelemahannya timbul
o Kalau ikan berusaha untuk terbang maka kelemahannya tombul
Dengan begitu, kalau kita menggali Potensi dan Keterbatasan kita maka akan jelas bahwa rencana tindakannya akan lebih berfokus kepada mengasah potesi menjadi kekuatan lalu menggunakan kekuatan tersebut untuk maju kedepan ketimbang berusaha memperbaiki keterbatasan ataupun memaksa bertindak berdasarkan keterbatasan.
o Kalau manusia ingin terbang, maka gunakan akalnya untuk membuat kapal terbang
o Kalau manusia ingin menyelam maka gunakan akalnya untuk membuat alat penyelam
Jadi kalau Gallup bilang:
“Focus on your Strength and manage around your Weakness”
( Fokus pada Kekuatan dan siasati Kelemahan)
Maka Abah Rama bilang
” Fokus pada Kekuatan siasati Keterbatasan”
==========================================================
Surah Ar’ Rahman (Q : 33)
“Hai golongan jin dan manusia, apabila kamu sanggup menembus penjuru penjuru langit dan bumi, maka tembuslah ! Tetapi kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan KEKUATAN ”
==========================================================
Read More..
Labels:
skill
Saturday, September 13, 2008
Soft Skill vs Hard Skill
Ini adalah artikel yang dah cukup lama saya dapatkan dari sebuah milis sekitar 1 tahun yang lalu. Karena beberapa hari yang lalu ada diskusi tentang pentingnya softskill dari setiap individu di tempat kerja (khususnya bagi yang baru bergabung ke lingkungan yang baru).
Semoga artikel ini bermanfaat.
----- Forwarded Message ----
From: fadilah raharjo
To: HRM-Club@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, August 29, 2007 11:51:02 AM
Subject: Re: [HRM-Club] Penting mana?
Dear Ibu Dewi,
Hasil survey Stanford Research Institute, Harvard University & Carnegie Foundation menyimpulkan: Bahwa lima belas persen (15 %) dari alasan mengapa seseorang berhasil meraih keberhasilan dalam pekerjaan banyak ditentukan oleh penguasaan pengetahuan dan keterampilan mengenai profesi (Hard Skill). Bagaimana yang 85 %? Delapan puluh lima persen dari mereka yang meraih sukses, banyak ditentukan oleh pengetahuan dan keterampilan mengenai manusia (Soft Skill)!
Perbaikilah Kepribadian Anda, dan Anda Akan Sukses
Oleh: Tunggul Tranggono
"You are free to choose, but the choice you make today will determine what you will have, be and do in the tomorrows of your life" Zig Ziglar.
Hasil survey Stanford Research Institute, Harvard University & Carnegie Foundation menyimpulkan: Bahwa lima belas persen (15 %) dari alasan mengapa seseorang berhasil meraih keberhasilan dalam pekerjaan banyak ditentukan oleh penguasaan pengetahuan dan keterampilan mengenai profesi. Bagaimana yang 85 %? Delapan puluh lima persen dari mereka yang meraih sukses, banyak ditentukan oleh pengetahuan dan keterampilan mengenai manusia! Survey yang lain pada 16 (enam belas) jenis industri di Amerika menunjukkan bahwa ternyata prestasi seseorang tidak ditentukan oleh faktor pendidikan formal apakah seseorang tersebut sarjana atau bukan sarjana,bukan oleh faktor jenis kelamin apakah seseorang itu laki-laki atau perempuan, bukan oleh ras apakah mereka itu kulit putih atau kulit hitam, dan juga bukan oleh umur apakah diatas 40 tahun atau dibawah 40 tahun.
Prestasi seseorang ditentukan oleh kepribadiannya. Bahkan disimpulkan juga bakat yang dibawa sejak lahir hanya berperan sebagai faktor imbuhan saja bagi prestasi seseorang. Kepribadian dan prestasi ibarat flight-attitude yang di-install pada cockpit pesawat terbang. Bila flight attitude menunjukkan kemiringan 45 derajat, maka berarti pesawat miring 45 derajat. Bila kepribadian seseorang tidak positif, maka prestasi yang bersangkutan tidak akan sukses, walau faktor pendukung kesuksesan yang lain dimilikinya. Oleh sebab itu apabila seseorang ingin sukses, tidak ada jalan lain kecuali menimba terus ilmu dan pengetahuan agar wawasannya luas, bekerja terus menerus agar memperoleh pengalaman dan mempertajam keterampilan, berpola pikir dan berpola tindak positif untuk makin menampilkan kepribadian yang positif. Tiga faktor ini yaitu "knowledge, skill and behaviour" oleh Dale Carnegie disebut sebagai faktor keberhasilan seseorang (The Triangle of Success).
KNOWLEDGE
Perjalanan jaman senantiasa diikuti dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Bagi manusia yang terlahir pada jamannya dituntut setidak-tidaknya mengetahui apa yang terjadi dan sedang berkembang, kemudian menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan tersebut dengan sikap yang adaptatif walau harus melakukan perubahan yang memerlukan pengorbanan. Dalam konteks bekerja dan pekerjaan misalnya, penerapan teknologi yang modern sebagai hasil perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat mau tidak mau harus diterima dengan baik, sebab kalau kita tidak melakukannya, bukan hanya ketinggalan dengan yang lain, tetapi bahkan mungkin kita akan terlindas dengan perubahan/kemajuan yang sedang berlangsung. "Make change an ally!" Jadikan perubahan itu sahabat anda. Sebab alergi dengan perubahan, kita akan mandeg.
Dalam pergerakannya, ada satu hal yang tidak pernah berubah, yaitu bahwa jaman akan menawarkan kepada kita berbagai kesempatan terus menerus. Tinggal terserahlah kepada kita akan menyambut kesempatan tersebut dan menangkap atau membiarkannya berlalu. Yang jelas kesempatan yang sama tidak akan datang lebih dari satu kali, hilang diambil oleh yang lain atau lenyap tertelan waktu. Siap atau tidak siap salah satu keberhasilannya tergantung penguasaan kita terhadap ilmu kita yang kita miliki. Sebab menangkap kesempatan harus berbekal ilmu pengetahuan. Semakin luas ilmu kita semakin cakap kita mengambil kesempatan. Hanya orang yang membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan yang banyak mampu menangkap berbagai peluang dan kesempatan.
SKILL
Keterampilan pada akhirnya akan dicapai seseorang apabila mereka melakukannya dalam praktek. Penguasaan ilmu pengetahuan saja tidaklah cukup untuk bisa disebut sebagai terampil apalagi ahli. Dengan praktek seseorang akan menemui berbagai pengalaman yang sangat variatif, berbagai persoalan dan bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut. Ini membuat penguasaan terhadap fungsi pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya semakin tajam. Berbekal ilmu pengetahuan ditambah pengalaman, seseorang akan mudah menemukan esensi dari ilmu pengetahuan tersebut, yang akan berpengaruh kepada keberhasilan dalam pengeterapannya. Solusi-solusi terhadap masalah bisa dipermudah sebab esensinya dikuasai. Untuk rakyatnya yang diharapkan bisa mandiri dan tidak tergantung kepada negara lain / kapitalis, Mahatma Gandhi menghimbau agar rakyatnya mempraktekkan ilmu pengetahuan yang sudah dimilikinya untuk melakukan produksi untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya.. Beliau mengibaratkan betapa tinggi praktek itu dengan perumpamaan bahwa satu ons praktik nilainya sama dengan satu ton ilmu pengetahuan. Maksudnya adalah dengan praktik, seseorang akan mendapatkan banyak manfaat dan ilmu yang lebih detail dan mendalam, sebab betul-betul dirasakannya dan dipahaminya.
BEHAVIOUR
Dipengaruhi oleh karakter yang terbawa sejak lahir, serta lingkungan kehidupan sehari-hari, seseorang akan tampil dengan ciri khusus yang mengemuka sebagai behavior dalam bentuk pola pikir dan pola tindaknya. Tampilan ini secara umum disebut sebagai kepribadian atau personality yang dalam awal tulisan disebut mempengaruhi pencapaian prestasi seseorang dengan dominan. Ada yang beranggapan kepribadian adalah pembawaan yang merupakan keturunan dari orang tua, atau yang tak bisa dirobah. Seorang sarjana, James William, menyatakan bahwa kepribadian seseorang ibarat bawang merah, yang apabila dikupas kulitnya, akan diketemukan kulit yang lain, begitu berkali-kali. Artinya kepribadian sebagai potensi sesungguhnya sangat banyak dimiliki oleh seseorang. Namun tidak nampak. Yang nampak atau ditampilkan sekarang ini adalah sebagian saja dari kepribadian yang dimilikinya. Hakekat dari pengibaratan ini adalah bahwa kepribadian itu bisa dikembangkan. "Attitude is learned, not inherited." Bisa dipelajari, bukan bawaan keturunan.
SELF DEVELOPMENT
Dengan berbekal ilmu pengetahuan (Knowledge), keterampilan (Skill) dan kepribadian (attitude & behaviour) yang dimilikinya, seseorang akan berhasil dalam pekerjaannya dan berprestasi tinggi. Namun itu tentunya tidak cukup. Perjalanan zaman membuat pula "social environment" berkembang. Oleh sebab itu prestasi pun harus berkembang dari waktu ke waktu sehingga seseorang senantiasa dalam posisi "kini lebih baik". Ibarat perjalanan, prestasi berawal dengan pertanyaan untuk diri sendiri ; siapa saya, dimana saya, hendak kemana saya, bagaimana caranya agar sampai kesana.
SIAPA SAYA?
Alangkah sulitnya seseorang yang ingin berkembang tetapi tidak mengenal dirinya sendiri. Untuk itu jurnal kehidupan senantiasa harus diikuti, neraca kehidupan senantiasa harus dibuat. Dengan introspeksi, dengan retrospeksi. Seberapa luas ilmu pengetahuan kita miliki? Seberapa terampilkah kita bekerja? Sepositif apakah kepribadian kita? Pengenalan diri sendiri dan kesadaran akan kekuatan serta kelemahan sendiri merupakan modal utama seseorang untuk bisa melakukan pengembangan diri. Tidak pula bisa dianggap sepele adalah pengenalan seseorang dari atau oleh orang lain yang harus dimanfaatkan sebagai 'feed-back' bagi koreksi akan hal-hal yang tidak baik pada diri kita.
DIMANA SAYA?
Seseorang hidup di tengah-tengah masyarakat, tidak terlepas dari interaksi antar berbagai aspek kepentingan baik manusia yang memiliki kepribadian berbeda-beda., dengan teman sekerja, lembaga / perusahaan dimana kita bekerja, masyarakat, bahkan sistem kerja yang saling interaksi secara global. Seseorang selalu berada di tengah-tengah berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilannya. Oleh sebab itu dimana letak posisi seseorang dalam interaksi organisasi, apa statusnya, harus disadari sebagai awal pijak perjalanan prestasi yang panjang.
HENDAK KEMANA SAYA?
Tujuan hidup hendaklah jelas. Clear Goal in Life kata sebagian orang. Bekerja sebagai usaha mewujudkan tujuan hidup haruslah jelas juga.Buat apa kita bekerja? Puaskah kita dengan kondisi sekarang? Atau kita ingin berkembang? Kemana kita akan menuju? Menentukan tujuan dengan jelas merupakan motivasi yang akan menggerakkan kita. Seberapa kuat (strength) kita, apa saja kelemahan (weakness) kita. Apabila sudah kita ketahui, dinamika interaksi sosial banyak menawarkan peluang (opportunities). Bahwa kita bisa menggapai kesempatan, adalah tergantung kesiapan kita. Adakah itu? Di samping itu harus diwaspadai pula bahwa di dalam berbagai kesempatan, ada juga ancaman -ancaman (threats) yang bisa membuat tujuan kita gagal.
BAGAIMANA CARANYA?
Dibumbuhi oleh semangat (enthusiasm), seseorang harus mencapai prestasinya. Untuk itu dalam pelaksanaannya haruslah berbahasa prestasi, bermotif prestasi (achievement motive orieented). Pada diri seseorang, motif prestasi bisa dikembangkan. Kebiasaan mengetahui apa yang dilakukan, senantiasa ingin mencapai hal yang lebih baik dari waktu sebelumnya, membandingkan antara hasil dan resiko-resiko, akan membawa seseorang kepada peningkatan motif prestasi yang semakin tinggi. Akhirnya secara naluriah pada diri seseorang akan terbentuk jiwa yang selalu ingin berprestasi. Seiring perjalanan hidupnya, tampillah suatu sosok jati diri yang mencerminkan kepribadian yang positif,yang bisa filling-nya mempercepat pemilihan antara kegiatan yang berguna bagi prestasinya dengan yang tidak. Dan kata tanya yang tepat untuk ini adalah di dalam kita berkegiatan atau bekerja, selalu ada pertanyaan kepada diri sendiri kenapa tidak yang terbaik yang aku lakukan?
PRESTASI, TERMINAL DARI TUJUAN
Individu adalah bagian dari institusi. Apabiia individu-individu berkembang, berkembang pulalah institusi, demikian sebaliknya. Dan apabila institusi berkembang, celah dan kesempatan semakin banyak, yang bisa kita tangkap semakin banyak pula kemungkinannya. Secara umum, "performance" kita akan saling terkait dengan performance institusi dimana kita bekerja. Oleh sebab itu bagi yang memahami alur pemikiran ini tak ada pilihan kecuali mengejar prestasi dengan bekerja sebaik-baiknya, sebab jalan kearah pencapaian tujuan semakin terbuka.
Pada akhirnya seiring perjalanan umur, sampailah kita di terminal tujuan hidup kita, di puncak karir dan bolehlah kita menghela nafas panjang sambil berucap: "Alhamdulillah, aku menjadi sebaik-baik diriku. Alhamdulillah tidak sia-sia hidupku,".
FADILAH RAHARJO
DALE CARNEGIE TRAINING
Jl. Setiabudhi No. 287A Bandung
Phone: 022.201.2600/022.200.9741
Fax: 022.201.2916
Hp: 0812-140.3277/022.700.14287
fadilah.raharjo@dalecarnegie.co.id
fadie24@yahoo.com Read More..
Semoga artikel ini bermanfaat.
----- Forwarded Message ----
From: fadilah raharjo
To: HRM-Club@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, August 29, 2007 11:51:02 AM
Subject: Re: [HRM-Club] Penting mana?
Dear Ibu Dewi,
Hasil survey Stanford Research Institute, Harvard University & Carnegie Foundation menyimpulkan: Bahwa lima belas persen (15 %) dari alasan mengapa seseorang berhasil meraih keberhasilan dalam pekerjaan banyak ditentukan oleh penguasaan pengetahuan dan keterampilan mengenai profesi (Hard Skill). Bagaimana yang 85 %? Delapan puluh lima persen dari mereka yang meraih sukses, banyak ditentukan oleh pengetahuan dan keterampilan mengenai manusia (Soft Skill)!
Perbaikilah Kepribadian Anda, dan Anda Akan Sukses
Oleh: Tunggul Tranggono
"You are free to choose, but the choice you make today will determine what you will have, be and do in the tomorrows of your life" Zig Ziglar.
Hasil survey Stanford Research Institute, Harvard University & Carnegie Foundation menyimpulkan: Bahwa lima belas persen (15 %) dari alasan mengapa seseorang berhasil meraih keberhasilan dalam pekerjaan banyak ditentukan oleh penguasaan pengetahuan dan keterampilan mengenai profesi. Bagaimana yang 85 %? Delapan puluh lima persen dari mereka yang meraih sukses, banyak ditentukan oleh pengetahuan dan keterampilan mengenai manusia! Survey yang lain pada 16 (enam belas) jenis industri di Amerika menunjukkan bahwa ternyata prestasi seseorang tidak ditentukan oleh faktor pendidikan formal apakah seseorang tersebut sarjana atau bukan sarjana,bukan oleh faktor jenis kelamin apakah seseorang itu laki-laki atau perempuan, bukan oleh ras apakah mereka itu kulit putih atau kulit hitam, dan juga bukan oleh umur apakah diatas 40 tahun atau dibawah 40 tahun.
Prestasi seseorang ditentukan oleh kepribadiannya. Bahkan disimpulkan juga bakat yang dibawa sejak lahir hanya berperan sebagai faktor imbuhan saja bagi prestasi seseorang. Kepribadian dan prestasi ibarat flight-attitude yang di-install pada cockpit pesawat terbang. Bila flight attitude menunjukkan kemiringan 45 derajat, maka berarti pesawat miring 45 derajat. Bila kepribadian seseorang tidak positif, maka prestasi yang bersangkutan tidak akan sukses, walau faktor pendukung kesuksesan yang lain dimilikinya. Oleh sebab itu apabila seseorang ingin sukses, tidak ada jalan lain kecuali menimba terus ilmu dan pengetahuan agar wawasannya luas, bekerja terus menerus agar memperoleh pengalaman dan mempertajam keterampilan, berpola pikir dan berpola tindak positif untuk makin menampilkan kepribadian yang positif. Tiga faktor ini yaitu "knowledge, skill and behaviour" oleh Dale Carnegie disebut sebagai faktor keberhasilan seseorang (The Triangle of Success).
KNOWLEDGE
Perjalanan jaman senantiasa diikuti dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Bagi manusia yang terlahir pada jamannya dituntut setidak-tidaknya mengetahui apa yang terjadi dan sedang berkembang, kemudian menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan tersebut dengan sikap yang adaptatif walau harus melakukan perubahan yang memerlukan pengorbanan. Dalam konteks bekerja dan pekerjaan misalnya, penerapan teknologi yang modern sebagai hasil perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat mau tidak mau harus diterima dengan baik, sebab kalau kita tidak melakukannya, bukan hanya ketinggalan dengan yang lain, tetapi bahkan mungkin kita akan terlindas dengan perubahan/kemajuan yang sedang berlangsung. "Make change an ally!" Jadikan perubahan itu sahabat anda. Sebab alergi dengan perubahan, kita akan mandeg.
Dalam pergerakannya, ada satu hal yang tidak pernah berubah, yaitu bahwa jaman akan menawarkan kepada kita berbagai kesempatan terus menerus. Tinggal terserahlah kepada kita akan menyambut kesempatan tersebut dan menangkap atau membiarkannya berlalu. Yang jelas kesempatan yang sama tidak akan datang lebih dari satu kali, hilang diambil oleh yang lain atau lenyap tertelan waktu. Siap atau tidak siap salah satu keberhasilannya tergantung penguasaan kita terhadap ilmu kita yang kita miliki. Sebab menangkap kesempatan harus berbekal ilmu pengetahuan. Semakin luas ilmu kita semakin cakap kita mengambil kesempatan. Hanya orang yang membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan yang banyak mampu menangkap berbagai peluang dan kesempatan.
SKILL
Keterampilan pada akhirnya akan dicapai seseorang apabila mereka melakukannya dalam praktek. Penguasaan ilmu pengetahuan saja tidaklah cukup untuk bisa disebut sebagai terampil apalagi ahli. Dengan praktek seseorang akan menemui berbagai pengalaman yang sangat variatif, berbagai persoalan dan bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut. Ini membuat penguasaan terhadap fungsi pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya semakin tajam. Berbekal ilmu pengetahuan ditambah pengalaman, seseorang akan mudah menemukan esensi dari ilmu pengetahuan tersebut, yang akan berpengaruh kepada keberhasilan dalam pengeterapannya. Solusi-solusi terhadap masalah bisa dipermudah sebab esensinya dikuasai. Untuk rakyatnya yang diharapkan bisa mandiri dan tidak tergantung kepada negara lain / kapitalis, Mahatma Gandhi menghimbau agar rakyatnya mempraktekkan ilmu pengetahuan yang sudah dimilikinya untuk melakukan produksi untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya.. Beliau mengibaratkan betapa tinggi praktek itu dengan perumpamaan bahwa satu ons praktik nilainya sama dengan satu ton ilmu pengetahuan. Maksudnya adalah dengan praktik, seseorang akan mendapatkan banyak manfaat dan ilmu yang lebih detail dan mendalam, sebab betul-betul dirasakannya dan dipahaminya.
BEHAVIOUR
Dipengaruhi oleh karakter yang terbawa sejak lahir, serta lingkungan kehidupan sehari-hari, seseorang akan tampil dengan ciri khusus yang mengemuka sebagai behavior dalam bentuk pola pikir dan pola tindaknya. Tampilan ini secara umum disebut sebagai kepribadian atau personality yang dalam awal tulisan disebut mempengaruhi pencapaian prestasi seseorang dengan dominan. Ada yang beranggapan kepribadian adalah pembawaan yang merupakan keturunan dari orang tua, atau yang tak bisa dirobah. Seorang sarjana, James William, menyatakan bahwa kepribadian seseorang ibarat bawang merah, yang apabila dikupas kulitnya, akan diketemukan kulit yang lain, begitu berkali-kali. Artinya kepribadian sebagai potensi sesungguhnya sangat banyak dimiliki oleh seseorang. Namun tidak nampak. Yang nampak atau ditampilkan sekarang ini adalah sebagian saja dari kepribadian yang dimilikinya. Hakekat dari pengibaratan ini adalah bahwa kepribadian itu bisa dikembangkan. "Attitude is learned, not inherited." Bisa dipelajari, bukan bawaan keturunan.
SELF DEVELOPMENT
Dengan berbekal ilmu pengetahuan (Knowledge), keterampilan (Skill) dan kepribadian (attitude & behaviour) yang dimilikinya, seseorang akan berhasil dalam pekerjaannya dan berprestasi tinggi. Namun itu tentunya tidak cukup. Perjalanan zaman membuat pula "social environment" berkembang. Oleh sebab itu prestasi pun harus berkembang dari waktu ke waktu sehingga seseorang senantiasa dalam posisi "kini lebih baik". Ibarat perjalanan, prestasi berawal dengan pertanyaan untuk diri sendiri ; siapa saya, dimana saya, hendak kemana saya, bagaimana caranya agar sampai kesana.
SIAPA SAYA?
Alangkah sulitnya seseorang yang ingin berkembang tetapi tidak mengenal dirinya sendiri. Untuk itu jurnal kehidupan senantiasa harus diikuti, neraca kehidupan senantiasa harus dibuat. Dengan introspeksi, dengan retrospeksi. Seberapa luas ilmu pengetahuan kita miliki? Seberapa terampilkah kita bekerja? Sepositif apakah kepribadian kita? Pengenalan diri sendiri dan kesadaran akan kekuatan serta kelemahan sendiri merupakan modal utama seseorang untuk bisa melakukan pengembangan diri. Tidak pula bisa dianggap sepele adalah pengenalan seseorang dari atau oleh orang lain yang harus dimanfaatkan sebagai 'feed-back' bagi koreksi akan hal-hal yang tidak baik pada diri kita.
DIMANA SAYA?
Seseorang hidup di tengah-tengah masyarakat, tidak terlepas dari interaksi antar berbagai aspek kepentingan baik manusia yang memiliki kepribadian berbeda-beda., dengan teman sekerja, lembaga / perusahaan dimana kita bekerja, masyarakat, bahkan sistem kerja yang saling interaksi secara global. Seseorang selalu berada di tengah-tengah berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilannya. Oleh sebab itu dimana letak posisi seseorang dalam interaksi organisasi, apa statusnya, harus disadari sebagai awal pijak perjalanan prestasi yang panjang.
HENDAK KEMANA SAYA?
Tujuan hidup hendaklah jelas. Clear Goal in Life kata sebagian orang. Bekerja sebagai usaha mewujudkan tujuan hidup haruslah jelas juga.Buat apa kita bekerja? Puaskah kita dengan kondisi sekarang? Atau kita ingin berkembang? Kemana kita akan menuju? Menentukan tujuan dengan jelas merupakan motivasi yang akan menggerakkan kita. Seberapa kuat (strength) kita, apa saja kelemahan (weakness) kita. Apabila sudah kita ketahui, dinamika interaksi sosial banyak menawarkan peluang (opportunities). Bahwa kita bisa menggapai kesempatan, adalah tergantung kesiapan kita. Adakah itu? Di samping itu harus diwaspadai pula bahwa di dalam berbagai kesempatan, ada juga ancaman -ancaman (threats) yang bisa membuat tujuan kita gagal.
BAGAIMANA CARANYA?
Dibumbuhi oleh semangat (enthusiasm), seseorang harus mencapai prestasinya. Untuk itu dalam pelaksanaannya haruslah berbahasa prestasi, bermotif prestasi (achievement motive orieented). Pada diri seseorang, motif prestasi bisa dikembangkan. Kebiasaan mengetahui apa yang dilakukan, senantiasa ingin mencapai hal yang lebih baik dari waktu sebelumnya, membandingkan antara hasil dan resiko-resiko, akan membawa seseorang kepada peningkatan motif prestasi yang semakin tinggi. Akhirnya secara naluriah pada diri seseorang akan terbentuk jiwa yang selalu ingin berprestasi. Seiring perjalanan hidupnya, tampillah suatu sosok jati diri yang mencerminkan kepribadian yang positif,yang bisa filling-nya mempercepat pemilihan antara kegiatan yang berguna bagi prestasinya dengan yang tidak. Dan kata tanya yang tepat untuk ini adalah di dalam kita berkegiatan atau bekerja, selalu ada pertanyaan kepada diri sendiri kenapa tidak yang terbaik yang aku lakukan?
PRESTASI, TERMINAL DARI TUJUAN
Individu adalah bagian dari institusi. Apabiia individu-individu berkembang, berkembang pulalah institusi, demikian sebaliknya. Dan apabila institusi berkembang, celah dan kesempatan semakin banyak, yang bisa kita tangkap semakin banyak pula kemungkinannya. Secara umum, "performance" kita akan saling terkait dengan performance institusi dimana kita bekerja. Oleh sebab itu bagi yang memahami alur pemikiran ini tak ada pilihan kecuali mengejar prestasi dengan bekerja sebaik-baiknya, sebab jalan kearah pencapaian tujuan semakin terbuka.
Pada akhirnya seiring perjalanan umur, sampailah kita di terminal tujuan hidup kita, di puncak karir dan bolehlah kita menghela nafas panjang sambil berucap: "Alhamdulillah, aku menjadi sebaik-baik diriku. Alhamdulillah tidak sia-sia hidupku,".
FADILAH RAHARJO
DALE CARNEGIE TRAINING
Jl. Setiabudhi No. 287A Bandung
Phone: 022.201.2600/022.200.9741
Fax: 022.201.2916
Hp: 0812-140.3277/022.700.14287
fadilah.raharjo@dalecarnegie.co.id
fadie24@yahoo.com Read More..
Labels:
psychology,
skill
Subscribe to:
Posts (Atom)
